#1  Surat untuk Kamu yang Hampir Menyerah

Spread the love

Jika kamu membuka halaman ini, mungkin ada alasannya. Mungkin kamu sedang tidak baik-baik saja.

Mungkin kamu sudah lama berpura-pura kuat, tersenyum di depan orang-orang, menjawab ‘baik-baik saja’ setiap kali ditanya — sementara di dalam, ada sesuatu yang perlahan runtuh.

Mungkin kamu sudah mencoba. Berkali-kali. Dan setiap kali mencoba, sepertinya hasilnya sama. Lelah. Tidak kemana-mana. Dan sekarang muncul sebuah pertanyaan yang menakutkan itu, bisikan yang semakin keras:

“Apa gunanya terus bertahan?”

Halaman ini ditulis untukmu. Bukan untukmu yang sedang berjaya. Bukan untukmu yang sedang semangat dan penuh energi. Tapi untukmu yang sedang ada di tepi — yang masih berdiri, tapi dengan lutut yang gemetar.

“Tulisan yang paling berharga bukan yang mengajarkan cara sukses. Tapi yang menemanimu saat kamu merasa tidak mampu lagi.”

— Rial Aditya

Di dalam seri halaman ini, kamu akan menemukan dua hal yang berjalan bersama: kejujuran seorang praktisi yang pernah berdiri di titik yang sama denganmu, dan kebijaksanaan dari ratusan jiwa terbaik dunia yang telah merumuskan kebenaran tentang penderitaan, ketahanan, dan kebangkitan.

Bukan teori semata. Bukan motivasi kosong. Yang ada di sini adalah kebenaran yang mungkin sudah lama ingin kamu dengar, tapi belum ada yang cukup berani untuk mengatakannya dengan jujur.

Kamu tidak harus membacanya sekaligus. Kamu boleh membaca satu halaman, menutupnya, dan kembali lagi besok. Tidak ada tuntutan di sini. Yang ada hanya satu undangan sederhana:

Tinggal sebentar lagi. Cukup satu halaman lagi.

— Rial Aditya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top